HEADLINE TEXT MARQUE FITURE | CHANGE ALL OF THIS TEXT WITH YOUR OWN | NDYTEEN

Jumat, 20 Maret 2009

BELAJAR DARI SURYO DAN BING

Saat ku berjalan meratapi lorong peluh
Tak sengaja ku temui sosok meringkuk kedinginan
Kaku bagai lidi enau, rapuh bagai kayu apu
Ku sentuh sosok itu, ku rasakan getaran saraf sensoriku mengembang dan mengencang
Sinyal pesan mengirimkan perintah ke otak untuk mengirimkan suplay air ke mata
Dan...... bulir bening suci itu menjadi saksi pertemuanku dengannya kedua
Bait....bait puisi itu, aku baca dalam sebuah cerita yang tak bisa kusebutkan sumbernya. Lebih senang kusebut “The Lost Book”. Buku karangan Mr. X ini sarat kisah. Kisah pilu tentang dirinya. Aku tak tau mengapa sosok lelaki yang slama ini begitu kukenal sebagai sosok gagah, tegap dan slalu bersemangat itu tampak sangat berbeda di bukunya. Dia menjelma menjadi Mr. Romantic. Kata-katanya bisa membuatku terhanyut dalam irama bait kalimatnya, bisa menyedot hampir separuh imajiku dalam “lubang ketersesatannya”. Dia seperti mempunyai dua kepribadian “Schyzoprenia” atau apalah istilahnya aku tak peduli. Tapi, entah mengapa, semakin kubuka tiap lembar sajaknya, makin dalam aku tersedot dalam syair-syairnya yang angker. Tapi, jujur,aku sangat menikmati irama suasana dalam bait-bait itu. Ada satu kisah yang membuatku harus rela menyumbangkan air mataku yang terlalu suci untuk meratapi kisah seorang anak manusia seperti dia. Entah kisah yang dia tulis itu tentang dirinya sendiri atau bukan, yang jelas kisah itu seperti mempunyai kesamaan dengan nada perjalanan kisah cintaku yang belum bisa berjalan mulus. Kisah tentang seorang kakek yang menceritakan masa mudanya untuk cucunya tercinta.
Namaku Suryo. 13 tahun yang lalu seharusnya aku duduk di sini bersama seorang wanita yang sangat aku cintai. Rukiyah, nama wanita itu. Aku lebih suka memanggilnya “Bing”. Panggilan itu adalah panggilan kesayanganku untuknya. “Bing” berarti Bintang. Bintang yang sinarnya selalu menerangi pikiranku saat gelap, bintang yang cahayanya slalu memudarkan smua lamunan-lamunanku yang maya, tak tersentuh menjadi mampu kusentuh. “Bing” adalah Rukiyah. Semua berawal dari hari itu, tanggal 07 November 1987, malam bulan sabit yang bergairah. Hari itulah hari peresmian hubunganku di hadapan Alloh. Malam itu adalah malam yang menjadikan smua yang haram, pamali,tabu menjadi suatu ibadah yang menjamin 1/3 hidup kita di surga, menjadikan smua yang haram menjadi halal di mata Alloh. Malam itu adalah malam pertamaku. Malam yang bagiku tak akan pernah aku lupakan sampai ujung usiaku dan akan aku sampaikan pada anak cucuku. Subhanallah.....Alhamdulillah.....Laila ha ilallah...........segala puji syukurku padaNya,atas smua kenikmatan yang telah Dia karuniakan padaku. Rukiyah,wanita selama empat tahun menjadi teman perempuanku satu-satunya kini benar-benar menjadi pasangan hidupku yang sah. “bing” itu kini menjadi istriku. Hari demi hari kami lalui bersama. Bulan demi bulan kami telusuri berdua. Aku selalu ingat kebiasaannya tiap subuh jam 4, selalu kudengar suara merdunya melantunkan ayat-ayat Alloh sehabis sembahyang subuh. Aku sangat menikmati ayat demi ayat yang dia lantunkan, dan aku selalu merasa semakin betah berada di sampingnya. Bukan hanya itu, tiap pagi saat dia menyiapkan sarapan untukku, selalu kudengar iringan syair Murottal ataupun nasyid. Dan entah mengapa, dia menjadi sangat lincah tiap dia mendengar lantunan syair kalem nan damai itu. Dan akupun menjadi semakin bergairah untuk pulang kerja lebih cepat dan membelainya,serta bercumbu dengannya. Dan ada satu yang membuatku slalu tak tahan untuk terlalu lama jauh darinya. Mungkin itu adalah resep terampuh bagi kaum lelaki seperti aku. Tiap aku berangkat kerja, dia slalu berucap, “Mas, jangan lama-lama ya pulangnya,Bing dah gag sabar pengen punya momongan.” Begitulah, dia selalu bisa membuatku kalah oleh semuanya. Entah mengapa, senyumnya, suaranya, bahasa tubuhnya tak pernah bisa membuatku berhenti memikirkannya. Bulan demi bulan menjadi saksi isyarat cinta kami, dan satu tahunpun berlalu. Akhirnya Alloh mendengar doa kami. Bing hamil. Kami sangat bahagia saat itu. Rasanya lengkap sudah karunia Alloh yang Dia beri untukku. Istri yang sholehah serta calon buah hati kami. Tiap hari bagiku dan Bing adalah perjalanan ke surga. Indahnya hari-hari yang kami lalui rasanya tak akan pernah ada yang bisa menghapus. Bing semakin terlihat cantik seperti calon bidadari penghuni surga saat dia memakai baju hamil. Auranya terpancar. Aku sempat cemburu pada beberapa rekan, ketika Bing aku ajak ke acara hajatan salahsatu rekan kerjaku. Beberapa rekanku yang lain, sempat berkata bahwa jika ada kesempatan, mereka akan berlomba-lomba merebut Bing dari aku. Bak kebakaran jenggot, aku waktu itu, tapi smuanya aku tahan. Aku sangat percaya pada Bing. Sembilan bulanpun berlalu, dan tiba saatnya Bing untuk bertarung nyawa demi buah cinta kami. Allahu Akbar........Allahu Akbar....seketika itu juga ku lafazkan takbir, memuja keagungan Alloh saat kudengar teriakan insan lugu berwujud bayi. Aku sangat bersyukur. Entah bagaimana aku harus melukiskan kebahagiaanku saat itu. Putra pertamaku telah lahir. Dialah Fajar. Putraku satu-satunya. Fajar Rofiq Abdullah. Itulah nama yang aku cantumkan dalam akta kelahiran. Nama yang aku sendiri telah merancang, sembilan bulan sebelum pejuang cilikku itu lahir. Kebahagiaanku semakin lengkap setelah Bing dan Fajar sudah kembali ke rumah. Rasanya rumahku semakin ramai dan lengkap dengan kehadiran Fajarku. Dan yang membuatku semakin mencintai istriku adalah keteguhannya merawat Fajar, buah cinta kami. Tiap pagi,seusai sembahyang subuh, rutinitasnya bertambah, mengajak Fajar jalan-jalan menghirup udara pagi yang suci sesuci hatinya. Bing,sangat menikmati aktivitasnya sebagai ibu.
Minggu demi minggu berlalu, Alloh pun tak pernah lepas menguji iman hambanya yang beriman. Dan ujian itupun datang padaku. Bing sakit. Saat itu Fajar masih berusia 6 bulan. Terpaksa kutitipkan Fajar pada ibu waktu itu. Bing harus dirawat di rumah sakit. Aku juga tak terlalu jelas paham tentang penyakit Bing. Dokter hanya bilang kalo Bing mengidap penyakit langka. Otaknya kekurangan oksigen. Aku tidak terlalu paham tentang istilah kedokteran, tapi intinya seperti itu. Aku sangat senang ketika suster bilang kondisi Bing semakin membaik. Aku sangat bersemangat merawat Bing. TAPI..........MEMANG MANUSIA HANYA MAMPU BERENCANA. Alloh telah mempunyai kehendak lain. Dan mungkin, Alloh menguji imanku, mungkin Alloh menguji seberapa besar cintaku untukNya dibanding dengan cintaku untuk Bing. Aku berfikir mungkin selama ini Alloh cemburu pada cintaku yang terlalu besar untuk Bing.
Selang dua hari setelah suster bilang bahwa kondisi Bing membaik, kemudian Alloh membuktikan kekuasaanNya. Bing meninggal. Dan benar-benar menjadi bidadari surga. Entah.....apa yang kurasakan saat itu. Marah,sedih,galau,rapuh. Rukiyahku, Bintangku pergi meninggalkanku bersama buah cinta kami. Tapi, sampai saat ini, ada kalimat yang slalu menguatkanku. Sejenak sebelum meninggal, Bing berpesan, “ Mas, jangan pernah berfikir Alloh jahat padamu karna Dia telah mengambilku darimu nanti! Alloh, terlalu sayang padamu dan padaku,sehingga Dia ingin menjaga hati kita nanti untuk bertemu kembali di surga. Jadikan aku sebagai semangatmu, mas! Jadikan aku sebagai pemicu ibadahmu untuk mendekatkan diri padaNya! Itulah cinta sejati kita. Aku dan kamu akan bersatu dalam ikatan yang abadi jika mas bisa melaksanakan itu tadi. Jadikan Fajar sebagai pejuang yang selalu berjalan di jalanNya! Carikan Fajar sosok ibu yang baru jika dia menginginkannya. Dan smua untuk kebaikanmu, mas. Sungguh,aku sangat mencintaimu! Aku sangat bersyukur mempunyai suami yang sangat hebat seperti kamu, mas! Tak penah putus pintaku dalam tiap sujud, agar kau selalu dalam kebenaran. Kebenaran dalam cinta maupun dalam pikiran. Sungguh....aku merasa sangat berat sekarang harus meninggalkanmu sementara. Siapa nanti yang memelukku saat aku dingin, siapa yang menggodaku saat aku galau. Tapi ini Cuma sementara, mas! Berjuanglah di jalanNya, maka smua yang kita nantikan pasti terkabulkan. Terima kasih mas, atas semua cintamu. Saat kita bertemu nanti, cinta itu akan slalu terjaga untukmu. Sampaikan doa yang indah dariku untuk putra kita tercinta. Sampaikan bahwa, Rukiyah, ibunya, telah menantinya di sini. Aku mencintaimu.” Begitulah pesan tertulis dari Bing untukku dan Fajar. Dan kini, tiap tanggal perkawinanku, slalu kubaca surat itu dan airmataku tak pernah berhenti hingga sang fajar kembali menyapaku. Dan sampai kini, tak pernah bisa aku gantikan sosok Rukiyah di hatiku. Biarlah kisah cintaku dengannya bersambung sementara. Biarlah hatiku ini slalu perjaka untuk Bing. Biarlah kutahan getirku sampai nanti saat kembali ku bersua dengannya di sana. Bing, sampai kapanpun, cinta ini akan slalu ada untukmu.
Begitulah kisah cinta sepasang suami istri. Bagiku kisah ini sangat mengena. Tiap aku mendalami sudut sajaknya, maka saat itu juga hati ini bergetir. Memang, cinta sejati hanya milik Alloh. Semoga,aku bisa mendampingi Bing nanti ketika bertemu dengan Suryo.
Untuk................ Mama dan Bapak. Semoga terus bersama.

Komentar :

ada 2 komentar ke “BELAJAR DARI SURYO DAN BING”
putrabayu mengatakan...
pada hari 

Andai saja ya...?

rista mengatakan...
pada hari 

maksudnya andai saja apa pak?

Posting Komentar