HEADLINE TEXT MARQUE FITURE | CHANGE ALL OF THIS TEXT WITH YOUR OWN | NDYTEEN

Senin, 23 Maret 2009

Rindu Bidadari

10 Agustus 2002
Bismillahirrahmanirrahim.....
Untuk bidadari kecilku yang tercantik...Untuk bintangku yang selalu tersenyum.....Untuk sebutir embun yang menyejukkan kalbuku.....Untuk senyummu yang jadi darahku....
Selamat Ulang Tahun Zahra! Semoga di usia yang ke 20, kau senantiasa menjadi cahaya di kala malam,senantiasa menjadi oase di tengah gersangnya gurun Sahara dan senantiasa menjadi pohon kurma yang meski sering dilempari oleh insan namun tetap memberikan buah yang manis, semanis kau, Sayang! Tetaplah tersenyum nak! Semoga Zahra bisa menjadi cangkir yang cantik yang meski awalnya tampak usang namun setelah ditempa dan melalui berbagai macam proses yang menyakitkan menjadi sebuah cangkir yang cantik yang nantinya akan tersenyum penuh kemenangan ketika berdiri di depan cermin menghadap Sang Illahi. Amin Ya Robbal Alamin.
Yang merindukan dan mencintaimu
Umi dan abi
Kututup surat yang kesekian dari orangtuaku di kampung halamanku yang sudah aku rindukan dalam beberapa bulan ini.Air mataku meleleh. Masih jelas terukir dalam benakku ketika pertama kali umi dan abi melepas kepergianku ke Surabaya untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan meneruskan amanah abi.
Setelah berhasil lulus jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas di salah satu kota kecil di Sumatera Utara, Padang Bulak, kota kecilku yang subur dan sejuk, aku berniat untuk membantu umi dan abi bercocok tanam. Aku tak ada niatan untuk berkuliah karena aku sangat kenal dengan kondisi perekonomian orangtuaku. Umi dulunya adalah pedagang kain ulos yang terkenal di desanya. Sedangkan abi adalah petani sawah yang biasa-biasa saja. Namun abi mempunyai pekerjaan sampingan sebagai guru mengaji di masjid atau langgar-langgar sekitar desa termasuk desa umi. Sampai pada suatu waktu, umi mengikuti pengajian akbar di masjid Al Ikhlas,salah satu masjid besar di desa Padang Bulak dan yang menjadi pimpinan pengajian itu adalah abi. Dari situlah umi mengenal abi dan abi mengenal umi. Umi pernah bercerita kepadaku kalau umi terpesona oleh sikap abi yang halus dan tidak pernah berkata dengan suara keras meski kepada rekannya yang sama-sama lelaki. Bahkan kata umi,abi tidak pernah marah. Sedangkan kata abi, umi adalah seorang wanita yang sangat sabar. Umi rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pedagang dan memilih untuk mengikuti abi sebagai petani. Padahal kata abi, umi adalah pedagang yang kaya namun dia rela meninggalkan semua itu karena hormatnya umi pada abi.
Cerita-cerita umi dan abi itu seakan terpatri di hatiku. Cerita ini berlanjut. Ketika aku mengusulkan niatku pada umi dan abi kalau aku ingin membantu mereka bercocok tanam dan menggantikan abi yang sudah tua dan sering sakit-sakitan pada suatu malam, umi berkata padaku sambil menggenggam tanganku.
“Zahra,umi senang sekali mendengar keinginanmu! Akan tetapi umi telah berjanji pada abi kalau umi akan menyekolahkanmu hingga setinggi-tingginya. Abi ingin kamu melanjutkan sekolah nak dan umi telah berjanji pada abi. Zahra mengerti kan? Umi harap keputusan yang kamu ambil nantinya adalah keputusan yang terbaik dan umi percaya keputusan yang kamu ambil nanti adalah takdir Allah Azza Wa Jalla.”
Setelah umi berkata begitu, umi meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Aku begitu bingung. Dalam benakku menyeruak berjuta tanya yang seakan semakin lama semakin berdesakan di tiap lekuk otakku. Bagaimana jadinya nanti kalau umi aku tinggal? Siapa yang akan membantu umi bercocok tanam,sedangkan abi sudah tidak memungkinkan untuk bekerja? Siapa yang akan menemani umi memijit abi tiap malam? Siapa yang akan membantu umi membeli jamu ke desa seberang kalau abi sakit? siapa,siapa,siapa,dan siapa.....???? tiba-tiba aku merasa badanku lemas,seluruh persendianku seakan kaku, aku merasa tidak memiliki daya untuk sekedar berdiri. Kakiku rasanya malas menopang tubuhku. Rasanya kantung mataku sudah tidak mampu menahan airmata ini. Kubiarkan dia keluar membasahi pipiku. Baru kali ini aku merasa mempunyai beban yang terlampau berat hingga aku tak mampu memikulnya seperti ini. Aku merasa lemah! Ya Allah, aku lemah Ya Allah! Maafkan hambamu yang tidak tegar,tidak tabah menghadapi cobaanMu ini Ya Robbi! Tapi hamba hanya manusia biasa, hamba hanya wanita biasa bukan Siti Maryam yang tahan meski Engkau memberinya cobaan yang sebegitu beratnya! Ijinkan hamba untuk menangis dihadapanMu! Bukankah Engkau memang memberi kami para wanita sebuah keutamaan berupa airmata? Maka ijinkan hamba menangis dalam sujudku malam ini! Hamba ingin mencurahkan segenap perasaan hamba padaMu malam ini!
Kemudian dengan mengucap basmallah,kukumpulkan seluruh energi yang tersisa. Kuberjalan ke luar kamar dan menuju ke padasan untuk berwudhu. Pada waktu berjalan ke padasan, aku melewati kamar umi dan abi. Aku sempat berhenti saat melihat umi memijit abi. Sungguh rasanya aku ingin berlari kearah umi dan memeluknya,mencium keningnya dan aku tidak ingin melepas pelukan itu. Seandainya abi tidak memberi amanah pada umi untuk menyekolahkan aku setinggi-tingginya tentu aku tidak perlu risau seperti ini. Namun segera kuhapus pikiran kerdil seperti itu. Aku yakin, ini semua telah diatur oleh Allah. Dan aku yakin apapun keputusan yang aku ambil nanti adalah jalan yang ditunjukkan oleh Allah.
Setelah berwudhu,aku kembali ke kamar. Aku berniat sholat istikharah dan berdzikir semalaman. Akupun memulai takbir, jiwaku serasa tenang. Seakan ada energi baru yang kini mengisi tiap ruang-ruang yang kosong dalam hatiku yang tadi sempat hilang karena kekalutanku. Aku merasa begitu khusyuk. Nikmat rasanya. Aku merasa begitu dekat dengan Allahu Ya Rahman. Hingga sujud terakhirku. Kucurahkan segenap perasaanku tanpa ada rasa condong ke salah satu pilihanku. Hingga aku merasa sajadah basah oleh airmata yang entah sejak kapan menetes. Kubiarkan airmata ini mengiringi tiap doaku. Kubiarkan dia menemaniku. Seiring dengan lirik doaku dan nyanyian airmataku,kusebut nama umi dan abi dalam hatiku. Kini, aku sudah mantap dengan satu keputusan yang aku yakin semua itu datangnya dariNya Yang Maha Mendengar. Aku merasa ada jiwa baru dalam tubuhku kini. Aku sudah lahir kembali menjadi Aisyah Az Zahra. Aku bisa merasakan urat-urat nadiku bernyanyi menyebut asma Illahi dengan riang dan penuh syukur. Kupejamkan mata. Kulantunkan dzikir memuji asmaNya yang agung. Kurasakan airmataku memang setia. Dia tidak pernah meninggalkanku disaat apapun. Disaat suka maupun duka. Dia masih menemaniku sampai aku telah menemukan pilihanku. Dalam nikmatnya dzikirku,aku merasa ada sebuah suara yang amat lembut kedengarannya. Suara itu memanggilku. Ya, suara itu memanggilku.
“Aisyah Az Zahra anakku! Kemarilah nak !” suara itu memanggil namaku dan menyebutku dengan sebutan “nak”. Suara siapakah itu? kataku dalam hati.
“Aku abimu nak! Kemarilah nak! Abi ingin bercerita padamu.”
Aku terperanjat. Bagaimana mungkin abi bisa membaca pikiranku padahal sepengetahuanku tadi aku tidak bertanya padanya? Akupun menghentikan dzikirku. Dan membuka mata. Aku sungguh kaget, di depanku sudah berdiri yang sosok yang sangat kukenal dan kurindukan. Abi. Kemudian abi duduk bersila disampingku dan mulai bercerita padaku.
“Zahra,sesungguhnya abi tahu apa yang sedang kau alami saat ini nak. Tapi sesungguhnya semua itu sudah merupakan rangkaian jalan yang harus kau tempuh! Percayalah bahwa Allah senantiasa bersama orang yang bersabar dan beriman. Abi memberi amanah begitu padamu bukan tanpa suatu tujuan tetapi abi mempunyai tujuan yang mulia. Abi ingin putri abi menjadi gadis yang mulia nantinya. Gadis yang memiliki kecantikan abadi yang kecantikannya bisa dibawa sampai mati. Abi punya pesan untukmu nak. Untuk mendapat bibir yang menawan,ucapkan kata-kata kebaikan dan nyanyikan asma Allah di tiap desah nafas. Untuk mendapat mata yang indah,cari kebaikan pada tiap orang yang dijumpai. Untuk mendapatkan badan yang menawan, bagikan makanan pada orang yang membutuhkan. Untuk mendapat sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan dan kau takkan pernah berjalan sendirian. Jadilah wanita muslimah yang berilmu dan pergunakanlah ilmumu untuk menambah keimananmu padaNya nak. Abi percaya, kamu bisa menjadi salah satu bidadari yang menghiasi surga kelak jika kamu bisa menjalankan pesan abi. Jadilah bidadari itu Zahra, maka abi dan umi akan tersenyum nanti!”
Setelah berkata begitu, abi berdiri dan mencium keningku. Kemudian dia berjalan meninggalkanku dan menghilang bersama datangnya cahaya yang menyilaukanku. Aku tak kuat dengan cahaya itu dan aku tak ingat apa-apa lagi.
“Zahra,bangun nak!sudah waktunya sholat subuh,” kudengar suara umi membangunkanku. Akupun bangun dan kaget. Seingatku semalam aku sholat istikharah,dzikir, dan...dan bertemu abi. Kemudian aku bertanya pada umi.
“umi, apa tadi malam abi kekamarku? Semalam aku bertemu abi dan abi bercerita banyak padaku.” Umipun membelai rambutku dan berkata, “semalam kamu ketiduran waktu sholat,lalu umi memindahkanmu di kasur. Mungkin kami bermimpi nak.” Akupun tertegun. Jadi semalam aku bermimpi. Mimpi yang indah. Aku ingin mimpi itu lagi,desahku dalam hati.
Setelah sholat, akupun segera menemui umi di dapur untuk mengatakan keputusanku. Setelah mendengar keputusanku akan berkuliah, umi senang sekali. Umi memelukku dan berkata, “Terimakasih nak. Abi pasti bahagia mendengar ini,” kata umi. Kurasakan hangat pelukan itu. Pelukan yang membuat semua yang didekapnya akan tenang. Itulah muslimah, pikirku.
Sampai akhirnya tiba saatnya untuk melepas keberangkatanku ke Surabaya. Aku berhasil masuk salah satu institut negeri di Surabaya dan mengambil salah satu jurusan teknik dengan program pendidikan S1. Umi dan abi mengantarku ke bandara Polonia. Saat itu cuaca sedang tidak cerah. Sejak subuh tadi, tanah Polonia sudah diguyur hujan. Aku melihat arlojiku. Menunjukkan pukul 7. Masih ada waktu setengah jam. Kemudian terdengar suara dari operator mengatakan bahwa pesawat akan berangkat setengah jam lagi. Umi dan abi kemudian memelukku satu-satu. Aku tak bisa melukiskan perasaanku saat itu. Baru kali ini aku berpisah dengan orangtuaku untuk jarak yang jauh. Kemudian abi berbisik tepat di telingaku yang tertutup jilbab, “jangan lupa pesan abi ya.” Akupun terperangah dan abipun tersenyum. Senyum yang lega. Senyum tanpa beban. Aku mengangguk dan menjawab, “Pasti. Zahra pasti akan menjadi bidadari itu untuk abi dan umi.” akupun berangkat dengan langkah yang ringan. Inilah jalan yang akan membimbingku. Dari dalam pesawat kulihat kota kecilku. Aku tersenyum dan kupejamkan mata. Kulihat umi dan abi tersenyum padaku. Alhamdulillah!
Itu adalah cerita dua tahun lalu. Dan dua bulan yang lalu aku genap berumur 20 tahun. Kuhapus airmata yang meleleh itu. Aku memang sudah lama tidak pulang menengok umi dan abi. Namun dalam setiap surat-suratnya, umi selalu mengabarkan bahwa keadaan mereka baik-baik saja. Umi malah menyuruh aku untuk giat belajar dan terus berdoa. Umi juga mengingatkanku untuk terus meningkatkan keimanan. Umi kerap mengirimiku jilbab sambil berpesan “PERTAHANKAN IZZAHMU NAK SEBAGAI MUSLIMAH SEJATI.” Libur semester genap belum usai. Masih ada waktu dua minggu. Kemarin-kemarin aku sibuk dengan berbagai kegiatan kampus dan inilah saatnya aku kembali ke kampung halaman untuk sekedar menengok umi dan abi. Aku rindu masakan umi. Aku rindu senyum abi. Aku rindu itik-itik yang riang bila sore tiba. Iya, aku akan pulang besok. Aku akan mengabarkan pada umi dan abi bahwa aku masih Zahra yang dulu. Aku masih muslimah yang sama ketika berangkat dari Polonia. Aku masih Zahra yang tidak pernah suka dandan. Aku masih memakai kacamata yang dibelikan umi waktu aku berulangtahun ke 17. Umi,abi, Zahra akan pulang.

Komentar :

ada 0 komentar ke “Rindu Bidadari”

Posting Komentar