Bismillah...
Apa kabar duniaku yang tenggelam seribu abad?? Haha.....rasanya terlalu berlebihan bukan jika aku bertanya seperti itu, tapi memang seperti itulah potret suram imajiku selama beberapa minggu ini. Aku yang menjunjung tinggi prinsip “scripta manen verba volan” seperti Cuma bualan atau sekedar bisikan yang Cuma mampir sesaat di bibir ini. Ya, selama beberapa minggu ini, entah aku mau berkata terpaksa atau sok bertingkah layaknya selebriti yang diburu deadline syuting, yang jelas aku seperti tak mampu menjamah kumpulan lirik di lipatan memoryku yang mungkin sekarang sudah menjadi sebuah diary, padahal kapanpun lirik itu selalu setia menantiku untuk mendengarkan suaranya bernyanyi tentang perjalanan roda hidupku, tapi aku mungkin terlalu congkak. Kadang, aku menyesal mengapa aku harus terlahir menjadi gadis yang menderita sindrom “writing complex” seperti ini. Yang selalu tak bisa mengeja bayangan ide menjadi sebuah kata yang nikmat untuk disuarakan. Yang selalu merasa hidup yang nyata dalam dunianya sendiri, mirip gadis autis yang suka bermain-main dengan bait-bait kata. Ya, mungkin inilah alasan Tuhan memberiku sebuah “kelainan” yang terlalu indah ini. Aku, gadis, mahasiswi, dan sangat tertutup. Aku, wanita, pendiam tapi sangat periang dan terbuka pada satu benda, buku. Aku, perawan, pemalu, dan hanya menjadi sangat “agresif” pada satu adegan, menulis. Mungkin, inilah alasan Tuhan memberiku mata yang utuh, tangan yang utuh, serta otak yang normal. Agar aku selalu tidak merasa sepi, selalu tidak merasa sendiri, selalu merasa punya teman dimanapun aku berada. Cuma, aku kecewa pada satu anugrah ini,karna aku tidak bisa mengolah verbalku dengan masyur. Aku menjadi gadis tertutup. Dan menjadi aneh bagi sebagian orang. Dan aku juga menjadi sangat kecewa ketika aku terbangun dari itu smua lalu aku menemukan bahwa aku telah menelantarkan ide mereka. Ide segar mereka, ide segar teman-temanku yang seharusnya bisa memandikan dan mengelupas kulit ari bagian hipotalamusku agar tumbuh menjadi gadis normal seperti mereka. Entah,kenapa aku berpikir seperti ini, mungkin karna aku merasa mereka, sang pembawa perubahan, merasa telah muak dan jijik dengan tingkahku yang pengecut. Cuma bisa memaki lewat mimpi yang selalu semu, dan tampak abstrak bagi mereka.
Jika kalian berjumpa dengan gadis seperti aku yang menderita suatu sindrom langka seperti ini, apakah kalian akan menghakimi aku bahwa sindrom itu buruk bagiku dan aku harus segera kabur dan lari sejauh-jauhnya?? Padahal bagiku, sindrom ini adalah anugrah terindah yang diberikan Tuhan padaku. Padahal bagiku, aku Cuma punya satu teman sejati yang tak akan pernah meninggalkanku kapanpun yaitu si “writing complex” ini. Padahal, kalian yang bicara Cuma sekedar buang abab untuk menghabiskan kemunafikan pada diri kalian sendiri, dan kalian Cuma benci pada kekalahan yang bagi kalian tidak adil, yaitu aku lebih memilih sesuatu yang kalian anggap “kelainan”. Padahal, kalian tidak pernah bisa memahami tiap gerak bibirku yang menyebut kata “Aku butuh kamu”!!!!!! apakah itu yang kalian anggap adil, teman-temanku???? Cuma kalian sendiri yang bisa menjawab. Entah itu Cuma sekedar menghiburku atau sekedar melemaskan urat bibir.
Senin, 16 Maret 2009
Menulis untuk kembali
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Nah... gitu dong...