Bismillah……
Malam kembali datang menyambut sapa jenuh bulir hujan. Lagi-lagi bulan takut muncul di cermin cakrawala, lagi-lagi aku harus sendiri meniti tiap tetes berkah air hujan. Kutelusuri kemana air hujan ini mengalir. Kupikir, betapa lelahnya bulir itu mengembara dari wajah lautan menguap ke cakrawala menghadap ke sang dewa melaporkan tentang tur panjangnya di tiap ruas kanal lalu kembali ke lautan dan begitu seterusnya. Akupun tertawa, sekedar membayangkan jika aku menjadi bulir air itu. Kupikir, betapa sempurnanya hidupku. Mengalir dan Cuma mengalir, tak pernah berhenti kecuali jika musim surut melanda atau musim kemarau menyapa. Seandainya hidupku seperti itu, betapa nikmatnya. Serasa tiap hari adalah tur indah, serasa tiap hari adalah anugrah. Bertemu dengan rupa berbeda, tanpa harus berhenti, tanpa harus terganjal, tanpa harus terpeleset, tanpa harus takut tersesat. Tapi, aku merasa hidupku sudah seperti kisah si bulir air itu. mengembara dan mengembara. Belajar hal baru, bertemu orang baru, bersyukur atas semua tamparan yang menyapa muka, tanpa takut kemana arah ini membawa. Karena aku yakin, asal ikhlas dan istiqomah maka smua arah adalah nikmat dan anugrah.
Pikiran ini membawaku menelusuri cakrawala sekedar untuk mendalami buku perjalanan si bulir air. Aku ingin belajar dari ketegarannya, kekuatannya dan keikhlasannya. Kebetulan malam ini, hatiku sedang rapuh. Mungkin karena aku kurang bersyukur, mungkin karena aku kurang ikhlas menerima sesuatu. Sesuatu yang tidak sesuai dengan doaku, dengan asaku, dan dengan mimpiku. Sesuatu yang selalu aku harapkan jauh dari realita hidupku. Tapi, ternyata sesuatu yang aku anggap menjijikkan itu benar-benar hadir dan menampar muka ini. Menyadarkanku bahwa tak semua doa itu selalu dijawab olehNya. Tapi, jujur malam ini sengaja aku habiskan dengan menikmati tiap bulir air yang membersihkan sebijih dosa di mukaku ini, menyapu sebijih debu yang menodai suci naluri ini dan memberI sedikit air sejuk di hatiku yang sedang membara ini. Ya….aku sedang tak berselera untuk tersenyum. Aku sedang panas!!! Baru saja aku luapkan panas ini menjadi lava yang kubiarkan meletus melalui celah mata. Kubiarkan membanjiri wajah ini. aku tak bisa terima dengan itu semua. Aku akui aku memang belum sepenuhnya menjadi manusia yang senantiasa ikhlas dan istiqomah.
Aku ingin bercerita malam ini pada kalian semua, pada kalian yang ikhlas memberi sedikit waktu untuk mendengarku. Mendengar teriakan hatiku, mendengar bisik kecewaku!!! Pertama, ijinkan aku berteriak. Meneriakkan sesuatu yang sungguh tak pantas didengar. Aku malu sesungguhnya. Tapi aku lebih suka seperti ini. aku bisa bebas!!!! Ya Alloh, ampuni aku!
I HATE YOU!!!! AKU BENCI KAMU, MANUSIA YANG KUSEBUT AYAH!! AKU BENCI TANGANMU YANG LUWES JIKA MEMUKUL ADEK YANG SANGAT KUSAYANGI, AKU BENCI MULUTMU YANG RAMAH MENCELA AKU, MENCELA ADEK, AKU BENCI LIDAHMU YANG SANTUN KETIKA MENGUMPATKU, MENGUMPAT ADEK, AKU BENCI BIBIRMU YANG INDAH KETIKA KATA-KATAMU YANG TAK PERCAYA AKANKU. AKU BENCI HATIMU YANG KAKU, AKU BOSAN DENGAN GAYAMU YANG PALSU DI DEPAN ANAK BUAHMU. AKU BOSAN DENGAN RAMAHNYA TANGANMU YANG MENYAPA MUKAKU. AKU BENCI OTORITERMU!!!!!! AKU BUKAN PEMBOHONG! AKU TAK PERNAH MEMBOHONGIMU, AYAHKU. AKU SANGAT MENYAYANGIMU!! AKU SANGAT MENGHORMATIMU! TAPI APA YANG KUDAPATKAN. KAU TAK PERCAYA PADAKU!!! AKU SAYANG KAMU, AYAH, TAPI SEKARANG SEMUA ITU HILANG!! AKU TAK RELA, JIKA KAU UCAPKAN KATA BURUK PADA ADEKKU. APA KAU TAU, AYAH, KATA-KATAMU ADALAH DOA BAGI KAMI, ANAK-ANAKMU. JANGAN LAGI KAU UCAPKAN KATA-KATA BURUK ITU PADA KAMI! KAMI SANGAT MENYAYANGIMU AYAH!! HATIKU TELAH LUKA. AKU KECEWA PADA KENYATAAN INI. AKU KECEWA!!!!!!!!!! AKU SELALU BANGGA PADAMU, AKU SELALU INGIN MENELADANIMU. MAAFKAN AKU YA ALLOH!! AMPUNI MULUT,DAN HATI INI!! AKU CUMA KECEWA DENGAN KENYATAAN INI. TAPI, AYAH, AKU BERJANJI AKAN MEMBAWAKAN BULAN TERINDAH DIHADAPANMU! AKU BERJANJI AKAN TETAP MEMBUATMU BANGGA PADAKU. AKU AKAN BUKTIKAN BAHWA AKU TAK PERNAH MEMBOHONGIMU! AKU TAK AKAN PERNAH BERUBAH. AKU TETAP INGIN MENJADI RISTA, SEORANG GADIS YANG SELALU BELAJAR! MENJADI RISTA YANG SELALU MENDOAKANMU!! MAAFKAN AKU YANG TELAH TERLUKA!
Astaghfirullah……..Ampuni aku Ya Alloh!! Kawan, jika kalian telah membaca tulisan ini, jadikan pelajaran. Begitulah aku. begitulah jalanku. Begitulah kisahku. Tidak jauh beda bukan dengan kisah si bulir air. Bedanya, si bulir air senantiasa ikhlas dan istiqomah menjalankan tugasnya walau tak jarang jalannya terselip karang, terhantam ombak tapi dia tetap berjalan bukan???? Sedangkan aku belum bisa sepenuhnya ikhlas, sedangkan aku sempat berhenti sejenak sekedar mengumpulkan puing-puing hatiku yang sempat tercecer, sedangkan aku sempat tertahan sejenak sekedar menata puzzle kehidupanku yang sempat berantakan. Sedangkan aku sempat tak bersyukur saat melihat kenyataan yang sangat jauh dari harapku. Aku telah belajar banyak dari si bulir air. Dan aku ingin menjadi dia. Perlahan, kuhirup bau ampo yang segar. Perlahan kumasukkan nafas bulir air ke labirin paruku agar dia mengalir menelusuri naluriku. Mengguyurkan air segar agar memadamkan api yang sempat membakarnya. Aku sedang belajar darinya. Aku sedang bangkit! Dan kalian jadi saksi!
Terimakasih telah mendengarku. aku dan si bulir air…………………………..
Aku turut prihatin, ukhti yang baik.
Marahlah, teriaklah, mengumpatlah sepuasmu... Siapapun akan melakukan hal yang sama.
Tak usah beristighfar... tak perlu merasa bersalah. Bebaskan beban batinmu.
Biarkan semua kepedihan terlepas, dan jangan sedikitpun kau sisakan di jiwamu.
After all. Anggap momentum ini sebagai saat krusial buat kamu menentukan sikap dan jalan hidupmu.
terimaksih bapak dosen yang baik. saia memang sedang mengalami masa-masa kritis. tapi saia bersyukur karna itu tandanya Alloh masih sayang pada keluarga. Mohon doanya ya bapak dosen.