Bismillah……………
Malam ini seakan menjadi bisu, tak bergairah seperti malam kemarin. Kumainkan jari, tuk sekedar menghitung berapa malam yang tlah kulalui begitu saja tanpa menyapa ide-ide segar yang selalu rindu akan guratan tangan ini. Kupandangi langit-langit kamar ini, tuk sekedar berharap menemukan ide segar itu lagi. sebenarnya banyak bisikan-bisikan lembut menyapa serabut halus saraf sensoriku yang mengingatkanku untuk tak berhenti menulis. Tapi apa daya, beberapa hari ini, rasanya aku lebih asyik tidur dan menikmati gemetarnya badan ini sebagai reaksi tubuh lemah berusia 19 tahun bersamaan dengan masuknya bahan kimia penghambat bakteri-bakteri jahat. Rasanya reaksi bahan kimia itu bahkan lebih jahat dari bakteri pathogen ini. Dia seolah mematikan daya kreasiku. Dia membuatku tak lebih dari seorang penyakitan yang wajib tergeletak lemah, tak berdaya di tempat tidur. Tapi mala mini, aku merasa sedikit lebih baik. Tubuhku tidak lagi gemetaran. Mungkin, bakteri itu sudah bosan menghuni tubuhku ini. Alhamdulillah…akhirnya aku sempat juga menuangkan segenap rasaku.
Aku ingin menghiasi malam ini dengan berjuta mimpi yang entah sengaja atau tidak hadir dan menyapaku lewat mimpi. Kata orang, mimpi itu terkadang Cuma bunga tidur. Apalagi melihat kondisiku yang tak karuan kemarin, wajar jika mamaku pun tak menggubris mimpi yang kuceritakan padanya. Mungkin bagi mama, mimpi itu Cuma reaksi dari tubuh seorang gadis yang sedang tidak sehat. Tapi, tidak bagiku. Mimpi itu begitu berarti bagiku. Aku tak pernah mimpi seperti itu sebelumnya. Bahkan aku tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Sampai sekarang, aku masih berpikir, mungkin mimpi itu suatu pesan atau pertanda bagiku. Tapi aku tak tau pesan atau pertanda apakah itu.
Dalam mimpi itu aku bertemu dengan macan berwarna hitam legam dan matanya putih bersinar. Rasanya, ketika itu aku bejalan bersama seorang kakek yang aku sendiri lupa bagaimana aku menyebut kakek itu. kami (aku dan kakek) berjalan di lereng jurang yang landai, sepertinya daratannya curam sekali, miring sekali. Daratan itu Cuma terdapat rumput-rumput hijau yang tak terlalu segar dipandang dan di atas lereng itu dipenuhi pohon-pohon bambu. Entah aku membicarakan apa waktu itu bersama sang kakek. Yang aku ingat, tiba-tiba saja aku dan kakek terpisah setelah melihat seekor hewan mengerikan yang lebih mirip macan kumbang itu. Aku berlari tak karuan arah. Aku tak tau kemana kakek itu. yang aku lihat, di belakangku ada seekor hewan buas yang dari sorot matanya ingin memangsaku, dia melihatku seperti gumpalan daging segar yang sangat nikmat dimakan. Aku berlari dan terus berlari. Tapi anehnya aku seperti tak kehabisan tenaga untuk berlari. Sampai akhirnya aku sampai di ujung jurang, dan akupun berhenti. Aku menoleh ke belakang, dan macan itu menatapku tajam. Aku ingin sekali menenggelamkan diriku ke dalam jurang itu tapi aku tak mau mati hari ini. Aku seperti menghitung nasib, aku seperti makan buah simalakama. Aku merasa kaki kananku mengajakku loncat ke dalam jurang itu, tapi kaki kiriku serasa tertancap paku, kuat sekali sehingga aku ngilu saat akan berlari. Saat aku bimbang dengan ketakutan yang aku tak tau itu nyata atau tidak, kudengar suara auman mengerikan. Dari siapa lagi kalau bukan dari macan kumbang itu. aku terhipnotis oleh dahsyatnya auman angker itu, sehingga kaki kiriku pun telah terlepas dari tancapan paku tadi. Dan aku terbang bebas menyusuri tebing jurang, aku merasa sangat ringan, seringan kapas. Kubiarkan ketakutan itu menguasaiku. Kubiarkan angin-angin sejuk hasil perkawinan lambaian pepohonan menyempurnakan rasa getirku akan kematian yang tadi sempat mengancam dan mungkin nanti akan mengancam. Ya….kuputuskan untuk menjatuhkan diri ke jurang mengikuti ajakan kaki kananku setelah mendengar auman kelaparan dari macan itu. aku tak tau dimanakah kakek sekarang berada, yang pasti aku merasa sangat lama melayang-layang seperti kapas. Ya Alloh..seberapa dalam jurang ini. Kenapa aku tak sampai juga di dasarnya? Apakah yang menantiku di dasarnya nanti? Pertanyaan itu seperti hantu yang mengiringi rekreasiku menyusuri dinding jurang ini. Kemudian kurasakan tubuhku jatuh di suatu dasar. Bukkk…………terasa bunyi berdebum di telingaku. Ternyata itu bunyi tubuhku sendiri. Kuraba dasar jurang itu. kering, lembut. Kubau tanganku, tak ada bau apapun. Seperti udara biasa. Kuangkat tubuhku. Kuberdiri. Kubersihkan badanku. Kuraba kepalaku, kenapa aku merasa dingin di ubun-ubun. Ya Alloh, jilbabku kemana? Aku kaget setengah mati, jilbab itu telah hilang dari kepalaku. Kemudian kulihat badanku, dadaku, perutku, pahaku, betisku, yang sedari tadi terasa dingin disambut embun. Astaghfirullah……kemana kain yang menutupi tubuhku???? Aku benar-benar telanjang!!! Tak sehelai kainpun menutupi tubuhku. Akupun lemas. Aku Cuma bisa menangis. Mama….aku dimana? Kenapa aku seperti ini? Kemana yang lain? aku duduk dengan melingkarkan kedua tanganku pada kedua kakiku yang tertekuk layaknya orang kedinginan. Kubenamkan wajahku pada kedua tanganku. Kemudian, aku merasa ada suara lembut yang membangunkanku. Kuangkat wajahku. Rasanya ingin pingsan saja aku melihat sosok itu. dia adalah aku. sosok berjilbab di depanku itu aku. kemudian dia membimbingku ke sebuah tempat. Disitu aku melihat video-video indah dan akulah yang jadi bintang filmnya. Kami tertawa bersama saat melihat kisah lucuku dan kami menangis bersama saat melihat kisah sedihku. Setelah puas menonton film gratis itu, diapun mengajakku ke suatu tempat. Rasanya tempat itu aneh. Masa’ dimana-mana ada cermin. Kemudian dia berkata, bahwa aku telah melakukan banyak kesalahan. Dan aku harus memperbaiki kesalahan itu. dia bilang, macan dan kakek adalah sebuah petunjuk. Aku harus mengikuti keduanya untuk memperbaiki kesalahan itu. kemudian gadis itu bilang bahwa aku harus segera kembali. Suatu saat kami akan berjumpa lagi. aku benar-benar tak mengerti maksud ucapannya. Tapi, saat aku sibuk mencerna kalimatnya, tiba-tiba tubuh ini terasa pening dan akupun terbangun dari mimpi itu.
Mungkin sampai sekarang aku masih bingung. Kenapa aku berjumpa dengan aku sendiri. Dan kenapa aku telanjang? Kenapa aku bertemu macan? Kenapa aku tidak sakit waktu jatuh ke jurang? Kenapa, kenapa dan kenapa? Aku berpikir, mungkin, sebenarnya aku sudah berada di alam antara hidup dan mati. Aku berharap semoga hidupku stelah bangun ini, lebih baik. Aku merasa mungkin sebenarnya aku sudah mati suri. Hahaha…tapi entah benar atau tidak, aku tidak tau. Tapi aku berjanji, akan menjadi rista yang lebih baik! Menjadi muslimah seutuhnya!! Entah mimpi atau bukan, aku ta peduli. Aku bersyukur mendapat hidayah yang tak ternilai harganya. Entah umurku tinggal berapa jam lagi, berapa hari lagi, atau berapa tahun lagi, yang pasti mimpi itu benar-benar mimpi paling bermakna dalam hidupku.
ALHAMDULILLAH………………….
Namanya juga mimpi waktu tidur. Kita tak pernah bisa memilih tema yang paling kita suka. Mimpi yang bisa kamu wujudkan adalah mimpi-mimpi yang hadir saat kamu terjaga. Mimpi yang dapat kau hadirkan di ruang kesadaranmu, dan dapat kau susun jalan untuk meraihnya dengan langkah-langkah yang kau tentukan sendiri.
OK. Keep dreaming...
OK. pak dosen...tengkyu ya.......
KEEP DREAMIN' TOO.