Namanya berawalan huruf “A”, sama seperti namaku. Asri Lestari. Nama yang sederhana namun penuh makna. Umurnya 10 tahun. Perawakannya kurus tapi lincah. Aku suka melihat gadis cilik itu ketika mengumpulkan sampah di dekat kosku. Aku sangat tertarik pada senyum manisnya dan goyangan rambutnya yang tiap hari selalu dikucir model ekor kuda. Aku sering melihatnya ketika pagi hari saat aku sibuk menyiapkan diri untuk berangkat kuliah. Dia datang dengan karung berasnya, menjinjingnya kemana-mana seolah karung itu berisi buku penuh ilmu yang eman jika dibuang. Ya..bagi dia dan keluarganya, isi karung beras itu memang sangat penting dan sangat eman jika disia-siakan. Botol air mineral yang mungkin bagi kita, tidak berarti apa-apa, yang tiap habis manis sepah dibuang, tapi bagi dia, botol itu adalah sumber uang sakunya tiap hari.
Pagi ini aku kembali berjumpa dengannya, dengan gadis cilik bernama Asri itu. Sama seperti pagi-pagi yang lain, dia tetap ceria. Sama sekali tak Nampak dari raut wajahnya yang polos itu barang sebijih penyesalan dan rasa malu. Dia tampak ikhlas memunguti bekas botol air mineral dan sampah plastic, dia tampak girang menyambut sesuatu yang biasa kita sebut sampah itu, karna baginya sampah itu adalah suatu emas yang berharga. Aku selalu tersenyum melihat kelincahan jari-jari lentiknya memunguti sampah-sampah itu. Lantas saat dia sedang berdiri memungut sampah di depan kosku, akupun tak menyia-nyiakan untuk berkenalan dengan idola baruku. Ya aku mengidolakan Asri sebagai gadis tangguh, aku suka dan kagum padanya, pada tawanya, pada percaya dirinya, pada semua yang dia miliki. Andai, aku mampu, aku ingin mengangkatnya sebagai adikku, agar aku bisa melihat tawanya yang renyah itu tiap hari, tiap saat. Aku memanggilnya
“Dek…sebentar ya, aku punya botol bekas banyak di dalem. Tunggu bentar ya!” kataku sambil berlalu ke dalam kamar dan mengambil botol bekas yang kujanjikan. Aku memang sudah berniat akan memberikan botol-botol bekas itu pada Asri.
“Ini dek,” kataku sambil menyerahkan botol-botol bekas itu. bibirnya pun tersenyum riang. Matanya tampak berkilat, dia tampak girang mendapat botol-botol bekas itu layaknya mendapat harta karun.
“Makasih ya mbak!” kemudian dia bersiap beranjak pergi dan meninggalkan aku yang sudah terlalu terpesona pada kemurnian auranya. Lalu akupun menahan kepergiannya itu. aku ingin kali ini bisa ngobrol dengan idolaku itu. aku ingin pagi ini menjadi pagi tak terlupakan bersama gadis cilik itu.
“Adek…mau kemana? Kok buru-buru gitu. Gag capek apa? Sini deh, aku punya sesuatu untuk kamu.” Kataku sambil menarik tangannya yang mungil itu. Saat kusambut tangannya, dia buru-buru melepasnya dari genggamanku, dan mengusap tangannya ke kaosnya. Ternyata dia tidak ingin tanganku ikutan kotor, padahal aku tak peduli. Bagiku, gadis yang kini berdiri di hadapanku itu adalah gadis tersuci yang pernah aku jumpai. Setelah mempersilakan gadis cilik itu duduk di teras, akupun masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil beberapa barangku yang aku rasa sudah tidak aku butuhkan. Tak lupa, aku bawakan snack dan air minum untuknya. Dia pasti lelah, walau itu Cuma kiraku saja karna samasekali tak Nampak sedikitpun sinyal lelah itu dari bahasa tubuhnya yang tetap lincah tak berubah.
“Nih, aku punya sesuatu buat kamu. Maaf ya dek, Cuma kaya gini tok.” Kataku sambil menyerahkan barang-barang itu padanya. Diapun menerima barang itu dengan rasa girang.
“Makasih ya mbak. Tapi kenapa kok dikasihkan ke saya?” tanyanya.
“Karna aku suka sama adek. Udah…ambil aja. Tapi jangan dijual lho ya. anggep aja itu hadiah dari aku. oya..nama adek siapa? Namaku Aurista, tapi temen-temen biasa panggil aku Rista,” kataku sambil mengulurkan tangan berharap dia menerima salam perkenalanku. Dan diapun menyambutnya.
“Namaku Asri Lestari, mbak. Tapi ibu dan adek manggil aku Asri.” Jawabnya. Kulanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.
“Dek Asri umur berapa? Emang jam segini nggak sekolah to, kok malah cari botol?” tanyaku. Kuperhatikan tiap lekuk bibirnya saat menyebut tiap bait kalimat yang meluncur, kuperhatikan sinar di matanya, sungguh, dia punya aura istimewa.
“Umurku 10 tahun, mbak. Sekolahku siang kok di inpres. Jadi kalo pagi gini ya cari botol, bantu ibu. Kalo nggak cari botol, aku nggak sangu. Lha mbak’e nggak sekolah to kok pagi-pagi malah nganggur?” tanyanya. Pertanyaannya yang terakhir seperti sengatan listrik yang menegakkan serabut sarafku. Pertanyaan sederhana dan aku tau dia tidak bermaksud apa-apa, tapi aku menangkap suatu pesan dari pertanyaannya itu. betapa dia melihatku sebagai makhluk yang beruntung karna pagi-pagi bisa nganggur, sedangkan dia harus bekerja. Betapa aku adalah sangat beruntung!
“Oh..aku juga masuk siang kok dek. Jam 1 nanti. Adek tinggal dimana? Punya berapa saudara?” tanyaku.
“Rumahku di deketnya sd inpres, mbak. Aku punya adek 1, umurnya masih 7 tahun. Dia nggak ikut cari botol kaya aku. dia kalo pagi gini sekolah, nti siang dia jaga rumah. Aku pengen kasih boneka ini ke adekku aja mbak. Nggak apa-apa kan mbak?” tanyanya.
“oh…ya jelas nggak apa-apa banget to! Lha memangnya bapak kamu kemana to dek?” tanyaku
“Aku aja juga nggak tau bapakku kemana. Kata ibu sih waktu aku bayi bapak pergi kerja, tapi kerja kok nggak pernah pulang? Hehehe..” katanya sambil tertawa lepas seolah tanpa beban dia ucapkan tentang ketidaktauan mengenai keberadaan bapaknya. Dalam hati aku sangat bersyukur bisa berjumpa dengan idolaku itu. Rasanya, tiap dia tertawa, aku juga merasakan kegirangannya. Dia sangat menikmati hidup, walau dia tahu perjalanan masa kecilnya dihabiskan untuk bekerja bukannya bermain seperti anak yang lainnya. Saat aku tengah larut dalam tawanya, diapun pamit.
“Mbak, aku ta’ cari botol lagi ya. ntar keburu siang.” Katanya sambil menjabat tanganku dan menciumnya.
“Mbak, kapan-kapan aku boleh main kesini to? Makasih banyak ya mbak! Ntar kapan-kapan aku ajak adekku kesini, aku pengen dia kenalan sama mbak Rista. Boleh to mbak?” tanyanya sambil menjinjing karung berasnya lagi.
“Oh…Boleh…boleh banget. Tiap hari juga nggak apa-apa kok dek. Tenan lho ya, ta’ enteni pokoke! Jo’ bosen mrene lho ya! ya udah salam ya buat ibu dan adikmu,” kataku.
“Yoha, mbak. Suwun jajane!” katanya sambil berlari meninggalkan gerbang kosku. Kuperhatikan langkah kakinya yang riang tanpa keluhan. Akupun tau kenapa aku senang dan sangat kagum pada gadis cilik itu. Aku kagum pada semangatnya yang tak kenal mengeluh. Aku kagum pada tawanya yang tak kenal rapuh. Ya…sosok itulah yang aku rindukan selama ini. Sosok itulah yang ingin aku jumpai lagi di tiap mimpi. Dialah jiwaku yang hilang selama beberapa hari ini. Pagi ini aku belajar suatu ilmu yang bagiku lebih berharga dari teori bangunan kapal, karna aku menemukan kembali semangatku yang bersembunyi akhir-akhir ini. Aku adalah gadis yang sangat,sangat beruntung karna masih bisa menikmati sejuknya udara pagi, nikmatnya bulir-bulir embun, dan indahnya senja. Aku masih sangat, sangat beruntung walau ada tembok raksasa yang berada di depanku menghalangi jalanku menuju kedinamisan , tapi aku masih mampu merasakan kehadiran orang-orang yang menyayangiku. AKu berjanji aku akan bangkit lagi. Aku akan kembali tersenyum dan menatap lantang ke tembok raksasa itu dan merobohkannya. Aku bukan si penyakitan. Aku bukan si pengecut yang menghentikan smua mimpi Cuma karna suatu vonis dari seorang makhluk Alloh. Aku akan kembali menggapai mimpi itu. Membiarkan sisa hidupku untuk menggapai smua mimpi-mimpiku.
TERIMA KASIH ASRI..ATAS SEMANGAT YANG TLAH KAU KIRIM….
Duh..., kisahnya bijang banget, bunda...
Moga-moga bikin bunda makin tegar... tawakkal... dan nggak rapuh lagi.
Cerita nya oke bangetz..!
Oia,emang mirip bangetz laguna dmassiv yg cinta ini membunuhku ama MCR yg i dont love you...
Kamu buktiin yang lainnya ajah,,pasti mirip juga..
ceritanya bagus banget!!!!!