HEADLINE TEXT MARQUE FITURE | CHANGE ALL OF THIS TEXT WITH YOUR OWN | NDYTEEN

Selasa, 23 Desember 2008

HATIKU BERSEDEKAH…………….

Malam ini seperti malam-malam yang lainnya. Aku habiskan waktuku dengan menulis artikel. Aku anggap rutinitasku ini sebagai pengusir sepi dan sarana penghibur. Namun, terkadang ada satu perasaan lepas ketika aku selesai menulis artikel-artikel ini, perasaan lega seperti baru saja meminum air zam-zam sehabis sa’i. rasanya, aku baru saja menuangkan semua bebanku sehari ini. Meneriakkan kekecewaan, kegelisahan, kesedihan, kemenangan, dan semuanya, tanpa ada yang terganggu.

Tapi malam ini, serasa begitu berat. Seperti habis memikul karung goni berisi batu seberat satu ton di punggungku. Jiwaku serasa letih. Dan nafasku serasa diburu mimpi buruk. Tubuhku pun bereaksi atas keletihan itu, mataku mengeluarkan butiran air bening bagai mutiara di tengah gurun Sahara. Aku tau apa dan siapa yang membuatku seperti ini. Tapi aku ogah menyalahkannya. Dia tidak pantas diadili. Hmmmfh…aku menghempaskan nafas pelan, mencoba menata hati dan merapikan bilik hatiku yang sempat berantakan tadi. Kubiarkan saja mata ini mengadu pada malam, betapa letihnya ia, mengembara seharian. Kubiarkan hatiku merajuk pada hujan, bahwa hari ini ada sebuah berita yang ingin dia ceritakan namun takut pada tuannya yang terlampau rapuh mendengarnya.

Sebenarnya hari ini adalah hari yang indah. sama seperti hari-hari lain ketika aku bertemu denganmu dan berbicara denganmu. Karena saat-saat itulah yang paling aku nantikan sepanjang hari. Bertemu dan berbicara denganmu. Menikmati lekuk wajahmu kala kau mengucap kata “aku bahagia hari ini”, mengikuti aliran matamu, dan memperhatikan gaya rambutmu. Aku memang sangat mengagumimu. Aku selalu merasa hilang adab ketika bersamanya. Aku tak yakin apakah ini hanya rasa kagum saja atau lebih dari itu. Tapi aku jelas sangat menikmati arus hati ini. Kemanapun ia membawaku, aku akan menyambutnya dengan siulan merdu. Bilik hatiku selalu menanti kehadirannya. Dialah penghuni ruang di bilik hatiku ini. Dialah sesungguhnya bilik hati itu. Dia sendiri yang akan datang dan tidur didalamnya. Aku akan selalu menyambutnya dengan senyuman.

Tapi pertemuanku kali ini denganmu agak berbeda. Kau tidak seperti biasanya yang terlihat bergairah dan bersemangat. Kau tidak memberiku semangat kali ini. Akupun bertanya, ada apa denganmu, wahai bilik hatiku? Kenapa kau terlihat kusam hari ini? Mana cahaya yang selalu aku rindukan itu? Namun pertanyaanku itu aku simpan rapi dalam bilik hatiku ini. Aku tak punya nyali untuk bertanya. Aku tak mau kau terbebani dengan pertanyaanku ini. Kucari mata elang yang selama ini selalu menyalurkan api pembakar semangatku, tapi dia tak ada. Nihil. Kenapa aku tidak punya keberanian,kenapa tiba-tiba nyaliku kerdil?

Dan diapun mengatakan bahwa dia harus pergi. Dia bilang, aku akan lebih bahagia jika dia pergi. Tapi….tapi……. tidak….kamu salah…aku tidak akan bahagia jika kamu pergi!!!! Siapa yang akan mengisi bilik hatiku? Siapa yang akan menemaniku menjelajahi indahnya Andromeda? Siapa yang akan menyelimuti jiwaku ketika aku kedinginan karena sepi? Siapa yang akan membakar semangatku??? Siapa,siapa,dan siapa?? Kamu sudah telanjur menelanjangi ruang hatiku, sudah merampas keperawanan ruang hatiku. Aku merasa aku harus merebutnya lagi darimu, tapi tak bisa. Kamu terlalu terikat kuat dengan venaku. Aku hanya bisa membiarkan hatiku menjerit, mengadu pada kesaksian malam,kubiarkan airmata mengalir seperti sungai yang mencari laut. Aku meremas bajuku. Aku ingin teriak padanya, aku ingin minta pertanggungjawaban darinya atas semua yang telah dia rampas dariku. Aku baru sadar. Aku lebih dari skedar mengaguminya. Aku menyayanginya, aku ingin memilikinya. Kemudian dia hapus airmataku, dia tatap mataku dalam-dalam. saat itu kutemukan lagi, mata elang yang aku cari. Namun, mata elang itu ternyata berhati marmot. Dia lalu berkata,

“biarkan aku pergi. Karena hanya dengan ini,aku akan lega. Aku tidak akan mengembalikan hati ini padamu, karena aku ingin menyimpannya sebagai hadiah terindah. Aku akan menjaganya, menyiraminya tiap hari, agar dia terus berkembang. Begitu juga kamu. Lepaskan aku, seperti aku melepaskanmu. Karna hanya dengan itu kamu tidak akan merasa kehilangan aku. aku akan tetap menjadi semangat di hatimu, asal kau tidak membencinya. Ree,aku tidak pernah meninggalkanmu.” Kemudian dia memegang tanganku dan meletakkan di dadanya sambil meneruskan perkataannya, “hati kita telah diikat oleh rantai,dan itu takkan pernah lepas oleh apapun. Cinta tidak harus selalu bersama. Dimanapun dia, asal kau menggenggamnya maka dia tidak akan pernah lari. Cinta ibarat bersedekah. Harus ikhlas. Jadi ijinkan aku pergi.” Diapun berdiri dan melangkahkan kaki meninggalkanku, namun aku tetap menggenggam tangannya,seperti anak yang tidak mau ditinggal ibunya dan merengek meminta ibunya untuk selalu menemaninya. Aku menangis. Runtuh sudah semua tembok pertahananku. Aku seraya memohon padanya untuk tidak pergi. Aku menjelma menjadi wanita lemah di hadapannya. Tapi dia kembali meyakinkanku bahwa aku harus mengikhlaskannya. Dia berkata, pada akhirnya tidak ada sesuatu yang kekal.

Akhirnya dia pergi. Kupandangi kerikil yang tadi jadi saksi perjalanan panjang ini. Tapi, aku merasa bilik hatiku tidak kosong, masih ada yang mengisinya disitu, dan itu adalah dia. Aku mendapat satu pesan berharga yang ingin dia sampaikan padaku, bahwa hidup adalah ibarat bersedekah. Dan bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hatiku untuknya, begitu juga dia.

Komentar :

ada 0 komentar ke “HATIKU BERSEDEKAH…………….”

Posting Komentar